Mega-Berita.com
Kalbar, - Ketersediaan bahan bakar minyak atau BBM di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang ada di Sintang dan Kapuas Hulu. Belakangan ini, dilaporkan mengalami kekosongan stok BBM akibat krisis pasokan dari Pertamina.
Masalah ini menimbulkan keresahan, bahkan sebagian warga mengaku kesulitan mendapatkan minyak, "jika stock tersedia harus menghadapi antrean panjang." Ungkap warga.
Terhentinya operasional SPBU berarti terhentinya mobilitas, yang pada akhirnya mengancam stabilitas ekonomi lokal. Hal ini mengindikasikan kegagalan sementara pemerintah dalam menjamin ketahanan energi dasar.
Berdasarkan informasi yang diterima media krisis ini muncul akibat masalah jalur distribusi, dilaporkan sungai kapuas mengalami pendangkalan akibat kemarau, Akibatnya, ponton pengangkut BBM dari pontianak mengalami kesulitan untuk mencapai Depot Pertamina di Sintang. Sehingga memutus suplai BBM ke SPBU.
"Biasanya pada musim kemarau, mobil tangki BBM diberangkatkan untuk melakukan proses bongkar muat di Sanggau. Namun sekarang katanya harus ke pontianak semua." tambah warga yang lain.
Selain dampak dari jalur sungai terhambat oleh pendangkalan, krisis ini diperparah oleh informasi mengenai adanya kebijakan baru dalam mekanisme distribusi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah melalui kementerian ESDM RI atau badan penyalur utama, Pertamina. Dikatakan bahwa terjadi perubahan prosedur di mana suplai minyak kini harus melalui satu pintu tunggal, yaitu Pertamina, berbeda dengan praktik sebelumnya, perubahan regulasi ini terhadap daerah hulu seperti Sintang dan Kapuas Hulu menjadi sangat terasa.
Depo Pertamina di Pontianak, meskipun merupakan pusat distribusi utama, tentu memiliki kapasitas dan jaringan logistik yang mungkin belum sepenuhnya teroptimalisasi untuk menangani peningkatan beban distribusi dari wilayah timur Kalimantan Barat secara mendadak. Penumpukan permintaan di satu titik distribusi berujung pada keterlambatan pengiriman ke hulu.
Menyikapi situasi ini, publik berharap Pemerintah segera meninjau kembali dampak kebijakan distribusi baru terhadap daerah terpencil yang sangat bergantung pada transportasi sungai. Jika jalur sungai Kapuas memang tidak memungkinkan karena pendangkalan, perlu dicari solusi sementara yang cepat, seperti mengoptimalkan kapasitas mobil tangki darat dari Pontianak atau Sanggau, bahkan jika itu berarti menambah biaya operasional untuk sementara waktu, demi memulihkan stok yang mulai kritis, langkah jangka pendek harus diambil untuk mengatasi masalah krisis BBM yang melanda di Sintang dan Kapuas Hulu.
Selain itu publik menuntut respons cepat Pertamina untuk memastikan suplai BBM kembali normal, diikuti oleh evaluasi strategis jangka panjang terhadap perencanaan logistik energi yang lebih adaptif, resilien, dan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan demi menjamin keberlangsungan aktivitas masyarakat dan roda perekonomian di timur Kalimantan Barat.
Cecep Kamaruddin
Penulis

