Mega-Berita.com BENGKAYANG, KALIMANTAN BARAT
— Dugaan modus penipuan berkedok booking wanita melalui aplikasi MiChat
kembali menjadi sorotan. Seorang konsumen mengaku diminta mentransfer uang
secara berulang dengan dalih deposit, jaminan keamanan, dan klaim
pengembalian dana. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi dugaan
ancaman penyebaran percakapan serta foto pribadi ke grup Facebook
Bengkayang Informasi.
Dokumentasi yang diterima redaksi memperlihatkan invoice bertuliskan Wisma
Jovan, bertanggal 19 Oktober 2026, dengan keterangan deposit sebesar
Rp250.000. Dokumen lainnya mencantumkan dua komponen deposit dengan total
Rp600.000, yang disebut berkaitan dengan pengembalian uang.
Namun, keberadaan invoice tersebut belum dengan sendirinya membuktikan
siapa pembuatnya, siapa penerima uang, maupun apakah pengelola wisma
terlibat langsung dalam dugaan praktik tersebut.
Berawal dari MiChat, Berlanjut ke WhatsApp
Berdasarkan pengakuan seorang sumber yang meminta identitasnya
dirahasiakan, peristiwa bermula ketika dirinya berkenalan dengan seorang
wanita melalui MiChat. Komunikasi kemudian beralih ke WhatsApp dan
dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai rencana booking.
Menurut sumber, setelah pembayaran tanda jadi atau uang muka, dirinya
diminta berkomunikasi dengan pihak yang mengaku sebagai manajemen Wisma
Jovan.
Pihak tersebut disebut meminta transfer Rp250.000 untuk voucher booking
dengan alasan sebagai jaminan keamanan apabila terjadi razia atau situasi
tertentu.
Setelah permintaan pertama dipenuhi, konsumen mengaku kembali diminta
mentransfer uang dengan jumlah yang sama untuk alasan jaminan keamanan
wanita yang akan ditemui.
Konsumen kemudian menolak permintaan tambahan tersebut. Namun, menurut
keterangannya, permintaan pembayaran berlanjut dengan alasan uang akan
dikembalikan setelah proses booking selesai.
Invoice Rp600 Ribu Jadi Bagian dari Dokumentasi
Salah satu gambar yang diterima redaksi memperlihatkan invoice bertuliskan
Wisma Jovan dengan dua keterangan, yakni “Deposit Klem Pengembalian Uang”
sebesar Rp400.000 dan “Deposit Pengembalian Uang” sebesar Rp200.000. Total
yang tercantum adalah Rp600.000.
Dalam percakapan WhatsApp yang turut didokumentasikan, pihak lawan bicara
menyebut uang yang akan dikembalikan berjumlah Rp600.000, kemudian meminta
deposit untuk klaim uang sebesar Rp200.000.
Dokumentasi tersebut memunculkan pertanyaan yang perlu dijawab: apa dasar
permintaan deposit tambahan, siapa penerima pembayaran, dan bagaimana
mekanisme pengembalian uang yang dijanjikan?
Jika pembayaran tambahan memang disyaratkan hanya agar dana sebelumnya
dapat dikembalikan, transaksi tersebut patut ditelusuri untuk memastikan
apakah terdapat indikasi penipuan.
Redaksi belum dapat memastikan keaslian invoice secara independen maupun
memverifikasi aliran dana berdasarkan gambar semata.
Konsumen Mengaku Diancam, Foto Pribadi Disebut Akan Disebar
Persoalan semakin serius ketika konsumen mengaku mendapat ancaman dari
wanita yang dikenalnya melalui MiChat.
Dalam tangkapan layar percakapan, terdapat pesan yang menyatakan bahwa
percakapan dan foto konsumen telah disimpan. Pengirim pesan juga menyebut
akan memasukkan informasi ke grup Facebook Bengkayang Informasi, disertai
tuduhan bahwa konsumen telah melakukan perdagangan manusia.
Ancaman penyebaran percakapan dan foto pribadi, apabila benar dilakukan
tanpa dasar yang sah, berpotensi menimbulkan kerugian terhadap privasi dan
reputasi seseorang. Tuduhan mengenai perdagangan manusia juga merupakan
persoalan serius yang tidak semestinya digunakan sebagai alat intimidasi.
Kebenaran konteks percakapan, identitas pengirim, serta maksud di balik
pesan tersebut masih perlu diklarifikasi secara menyeluruh.
Polisi Diminta Telusuri Identitas dan Aliran Dana
Atas kejadian ini, aparat kepolisian diharapkan menelusuri pihak-pihak
yang terlibat dalam komunikasi, identitas pemilik rekening atau dompet
digital penerima pembayaran, keaslian invoice, serta dugaan ancaman
penyebaran foto dan percakapan pribadi.
Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah terdapat unsur tindak
pidana dan siapa yang bertanggung jawab. Penelusuran juga penting untuk
memastikan apakah nama Wisma Jovan digunakan secara sah oleh pengelolanya
atau dicatut oleh pihak lain.
Masyarakat yang mengalami kejadian serupa diimbau tidak mengirimkan uang
tambahan hanya berdasarkan janji pengembalian dana tanpa verifikasi.
Simpan seluruh percakapan, invoice, nomor telepon, bukti transfer, dan
informasi akun terkait sebagai bahan pelaporan.
Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pengelola Wisma
Jovan maupun pihak lain yang berkaitan dengan peristiwa ini. Hingga berita
ini disusun, redaksi belum menerima keterangan resmi dari pihak pengelola
maupun kepolisian mengenai dugaan tersebut.
Catatan Redaksi:
Pemberitaan ini disusun berdasarkan pengakuan narasumber dan dokumentasi
yang diterima redaksi. Dugaan penipuan dan ancaman masih memerlukan
verifikasi serta pemeriksaan aparat berwenang. Nama usaha yang tercantum
dalam dokumen tidak dengan sendirinya membuktikan keterlibatan pengelolanya
dalam dugaan tindak pidana.






